Kamis, 05 Juni 2014

PENGKAJIAN FISIK SISTEM HEMATOLOGI




          Kebanyakan evaluasi dari sistem hematologi didasarkan pada riwayat kesehatan. Dimana konsekuensinya, perawat harus punya kemampuan keilmuan untuk menanyakan /mengkajitentag riwayat kesehatan untuk menemukan masalah pasien yang berkaitan dengan gangguan system hematology. Berikut ini dapat ditampilkan kemungkinan data yang dapat ditemukan pada pasien yang mengalami gangguan system hematology:

1. Data Subjektif

1.1. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Perawat melakukan pengkajian riwayat kesehatan masa lalu dengan interview apakah pasien menderita: anemia, leukemia, mononukleosus, malabsorpsi, gangguan liver: hepatitis, sirosis; tromboplebitis atau trombosis; gangguan limpa

1.1.1. Persepsi Sehat-Pola Penanganan Kesehatan
Perawat mengkaji persepsi sehat-pola penanganan kesehatan pasien, apakah pasien merasakan kekurangan energi/lemah, merokok atau minum alcohol, pernah menerima transfuse.
Apakah pasien pernah menderita salah satu dari: SLE, leukemia, myelodisplastik syndrome, infeksi Ebstein-Barr virus, sytomegalovirus, rubella virus, hepatitis virus (A,B, atau C), infeksi saluran nafas atas, atau bastroenteritis, infeksi HIV,  ketergantungan obat (bila ya, jenis obat-obatan apa yang di konsumsi), pembedahan, trauma kepala, sakit kepala, pandangan berkunang-kunang, somnolen, penurunan tingkat kesadaran, perdarahan intracranial.



1.1.2. Kesehatan Keluarga
Apakah diantara anggota keluarga ada yang menderita anemia, leukemia, perdarahan, masalah pembekuan.

1.1.3. Pola Metabolisme-Nutrisi
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami kesulitan makan, mengunyah, menelan, bagaimana selera makan pasein, apakah pasien mengkonsumsi vitamin, suplemen, zat besi, apakah pasien merasa mual, mengalami muntah, perdarahan, memar, perubahan kondisi kulit, keringat malam, intoleransi terhadap suhu/iklin yang dingin, pembengkakan pada lipatan ketiak, leher, lipatan paha.

1.1.4. Pola Eliminasi
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami buang air besar berwarna hitam atau seperti ter, kencing berdarah, urine output berkurang, diare, menorrhagia, ekimosis, epistaxis.

1.1.5. Pola Latihan-Aktifitas
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami rasa lelahan yang berlebihan, bernafas pendek-pendek saat istirahat dan/atau saat beraktifitas, mengalami keterbatasan gerak sendi, gait yang tidak baik, perdarahan dan/atau memar setelah beraktifitas.

1.1.6. Pola Istirahat-Tidur
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami rasa lelahan dan/atau kelelahan yang lebih dari biasanya, merasa baik setelah beristirahat.
.
1.1.7. Pola Persepsi-Kognitif
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami mati rasa, rasa geli, masalah penglihatan, pendengaran, pengecapan, perubahan fungsi mental, nyeri tulang, sendi, abdominal, perut kembung, nyeri sendi saat melakukan gerakan, nyeri otot.
Pola Konsep-diri-Persepsi-diri
Perawat mengkaji apakah pasien merasa: masalah kesehatannya membuat perasaan berbeda tentang dirinya sendiri, perubahan fisik yang menyebabkan distress.

1.1.8. Pola Berhubungan-Peran
Perawat mengkaji apakah pasien bekerja pada lingkungan yang kontak dengan bahan-bahan yang merusak/merugikan, apakah pasien merasakan bahwa penyakitnya merubah peran dan hubungan dirinya dengan orang lain.

1.1.9. Pola Reproduksi-Seksual
Perawat mengkaji apakah pasien mempunyai masalah hematology yang menyebabkan masalah seksual, wanita: kapan mens terakhir, siklus normal, berapa lama mengalami perdarahan tiap siklus, peningkatan pembekuan, volume mensturasi, pria: mengalami impotensi

1.1.10. Pola Toleransi Stres-Koping
Perawat mengkaji apakah pasien mempunyai system dukungan (keluraga, teman, organisasi, dll) yang dapat menolong, bagaimana strategi koping yang digunakan selama sakit.

1.1.11. Pola Keyakinan-Nilai
Perawat mengkaji bagaimana pengetahuan/pendapat pasein tentang transfuse darah, apakah pasien mempunyai konflik antara rencana terapi dan sisteem keyakinan-nilai yang di anut.

1.1.12. Obat-obatan
Perawat mengkaji apakah klien pernah menggunakan obat-obatan:
  1. Asam Aminosalisilik (Pamisil, PAS) yang berfungsi sebagai anti tluberkulin:  dapat menyebabkan leukositosis sekunder terhadap hipersensitivitas dan anemia.
  2. Amphotericin B (Fungizone) yang berfungsi sebagai anti fungal : dapat menyebabkan penurunan agregasi platelet, perpanjangan waktu perdarahan.
  3. Asam Asetilsalisilik (aspirin) dan aspirin yang mengandung bahan (seperti: Empirin, Percodan) yang berfungsi sebagai analgesik, antipiretik, antiinflamatori: dapat menyebabkan anemia, leucopenia.
  4.  Azathioprine (Imuran) yang berfungsi sebagai immunosuppressi: anemila, leucopenia, trombositopenia. Carbamazepine (Tegretol) anti kejang: anemila, leucopenia, trombositopenia. Chloramphenicol (Chloromycetin) antibiotic: Anemia, neutropenia, trombositopenia.
  5. Chlorothiazide (Diuril) yang berfungsi sebagai diuretic: Trombositopenia (kadang-kadang).
  6. Kontrasepsi oral dan diethylstilbestrol yang berfungsi untuk control kelahiran, gejala menopausal, perdarahan uterin, kanker prostate dan dapat menyebabkan: Peningkatan factor II, V, VII, VIII, IX, X; peningkatan trombin; penurunan protrombin dan parsial tromboplastin time (PTT); peningkatan koagulasi dan pembentukan tromboemboli.
  7. Diphenylhydantoin (Dilantin) yang berfungsi sebagai anti kejang, antiaritmia: anemia.
  8. Epinephrine (Adrenalin) yang berfungsi sebagai simpatomimetik dan dapat menyebabkan: leukositosis.
  9. Glucocorticoid (Prednisone) yang berfungsi sebagai antiinflamatori dan dapat menyebabkan: limphopenia, neutropilia.
  10. Isoniazide (INH) yang berfungsi sebagai antituberkulin dan dalpat menyebabkan: neutropenia.
  11. Methyldopa (Aldomet) yang berfungsi sebagai antihipertensi dan dalpat menyebabkan: anemia hemolitik.
  12. Phenacetin (APC, bahan Empirin) yang berfungsi sebagai analgesic, antipiretik yang dapat menyebabkan: anemia.
  13. Phenylbutazone (Butazolidin) yang berfungsi sebagai antiiflamatori yang dapat menyebabkan: Anemia, leucopenia, neutropenia, trombositopenia.
  14. Procaiamide hydrochloride (Pronestyl) yang berfungsi sebagai antiaritmia yang dapat menyebabkan: agranulositosis.
  15. Quinidine sulfate yang berfungsi sebagai antiaritmia yang dapat menyebabkan: Agranulositosis, anemia, trombositopenia.
  16. Trimethoprime-sulfamethoxazole (Bactrim, Septra) yang berfungsi sebagai antibacterial yang dapat menyebabkan: anemia, leucopenia, neuutropenia, trombositopenia.
  17. Agen Antineoplastic yang berfungsi sebagai  immunosuppressi, malignansi yang dapat menyebakan: anemia, leucopenia, trombositopemia.
  18. Agen Nonsteroidal Anti-inflammatory yang berfungsi sebagai antiiflamtori, analgesi, antipiretik yang dapat menyebabkan: inhibisi agregasi platelet.
  19. Qinidine atau quinine, obat penguat pada minuman keras, pemberi rasa pahit pada minuman keras dapat menyebabkan purpura.
  20. Heparin untuk antikoagulasi dapat menyebabkan: trombositopenia/pseudotrombositopenia.


2. Data Objektif

2.1. Pemeriksaan Fisik
Perawat melakukan pengkajian dengan teknik inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi untuk mengidentifikasi apakah terdapat tanda dan gejala sebagai berikut :

2.1.1. Kulit.
Kulit akan tampak pucat karena berkurangnya jumlah hemoglobin (anemia); kemerah-meahan karena menigkatnya jumalah hemoglobin (polisitemia); jaundis karena penumpukan pigmen empedu yang disebabkan oleh hemolisis yang cepat atau berlebihan; purpura, peteki, ekkimosis, hematom yang disebabkan oleh defisiensi hemostatik factor pembeku yang menyebabkan perdarahan di kulit; ekskoriasi dan pruritus disebabkan oleh garukan pada kulit karena rasa gatal sekunder terhadap gangguan seperti penyakit Hodgkin dan peningkatan jumlah bilirubin; ulser pada tungkai disebabkan oleh penyakit sikel sel terutama terjadi pada bagian maleolus pergelangan kaki; perubahan warna menjadi kecoklatan disebabkan oleh hemosiderin dan melanin dari eritrosit yang pecah dan deposit zat besi sekunder terhadap transfuse zat besi yang berlebihan; sianosis disebabkan oleh penurunan hemoglobin; telengiektasis disebabkan oleh hiperemik spot disebabkan oleh dilatasi kapiler atau pembuluh darah yang kecil dan angioma kecil dan cendrung mengalmi perdarahan; angioma disebabkan oleh tumor benigna pada pembuluh darah atau getah bening; spidernevi disebabkan oleh dilatasi kapiler-kapiler yang tampak seperti sarang laba-laba, hal ini berhubungan dengan penyakit liver dan peningkatan kadar estrogen pada kehamilan.

2.1.2.  Kuku.
Pada bagian kuku akan telihat dan teraba rigid memanjang, datar dan cekung yang disebabkan oleh anemia defisiensi zat besi yang kronik.

2.1.3. Mata.
Bagian-bagian dari mata dapat terlihat jaundis pada sclera yang disebabkan oleh penumpukan pigmen empedu karena hemolisis yang berlebihan atau cepat; pucat pada konjungtiva disebabkan karena penurunan jumlah hemoglobin (anemia); perdarahan pada retina disebabkan oleh trombositopenia dan anemia; dilatasi vena-vena akibat  polisitema.

2.1.4. Mulut.
Sekitar mulut akan terlihat pucat karena penurunan jumlah hemoglobin (anemia); ulserasi gusi dan mukosa karena anemia berat dan neutropenia; infiltrasi pada gusi (membengkak, kemerahan, perdarahan) disebabkan oleh leukemia ; tekstrur lidah halus oleh karena anemia pernicious dan deriseinsi zat besi.

2.1.5. Kelenjar getah bening.
Teraba lunak karena respon normal terhadap infeksi pada bayi dan anak, adanya invasi kanker pada orang dewasa, pembesaran akibat infeksi, infiltrasi benda asing, atau gangguan metabolic terutama lemak.

2.1.6. Dada.
Tampak pelebaran mediastinum karena pembesaran nodus lymph; teraba tenderness/perlunakan pada seluruh bagian sternal karena kondisi leukemia yang menyebakan erosi tulang; tenderness sternal local karena myeloma multiple akibat dari peregangan periosteum; terdengar takikardia karena mekanisme kompensatori pada anemia untuk meningkatkan kardiak output; teraba tekanan pols melebat karena mekanisme kompensatori pada anemia untuk meningkatkan kardiak output dengan meningkatkan volume sekuncup; terdengar murmur karena biasanya murmur sistolik akan mucul pada anemia disebabkan oleh peningkatan jumlah dan kecepatan dari viskositas rendah melalui katup pulmonik; terdengar bruit (terutama karotis) karena kecepatan dari viskositas darah yang rendah melalui katub pulmoni; angina pectoris karena peningkatan aliran darah dengan viskositas rendah melalui pembuluh darah; hipertensi dan bradikardia karena anemia.

2.1.7. Abdomen.
Dari palpasi ditemukan hepatomegali akibat dari leukemia, sirosis atau fibrosis sekunder terhadap kelebihan zat besi pada sikel sel atau thalasemia; spenomegali karena leukemia, lymphoma, mononucleosis; dari auskultasi akan terdengar bruit dan rub akibat infraksi splenik.




2.1.8. System saraf.
Dari hasil pemerisaan sensasi getar, propriosepsi/posisi, nyeri, sentuhan, getaran dan reflek tendon ditemukan kerusakan fungsi system saraf karena defisiensi cobalamin atau penekanan dari saraf oleh massa.

2.1.9. Punggung dan ekstremitas.
Pasien mengeluh nyeri punggung, yang merupakan penyebab adalah reaksi hemolitik akut dari nyeri panggul karena ginjal berperan dalam lproses hemolisis; multiple myeloma dari pembesaran tumor yang meregang periosteum atau kelemahan jaringan penyokong yang menyebabkan strain ligament dan spasme otot; dan penyakit sikel sel.
Dari inspeksi akan tampak peteki akibat dari tirah baring pada kondisi pasien yang mengalami trombositopenia.
Athralgia yang disebabkan oleh leukemia karena adanya penyakit pada tulang : sumsum tulang, dan sikel sel dari hemartrosis.
Pasien juga akan mengeluh nyeri tulang akibat invasi sel leukemia ke tulang, demineralisasi akibat dari hematopoietik dan malignansi yang padat meningkatkan kemungkinan patah tulang patologi, dan penyakit sikel sel.


2.2. Laboratorium

2.2.1. Hitung Darah Lengkap
Perawat melakukan pengkajian kolaborasi untuk mengetahui apakah pemeriksaan komponen darah lengkap masih dalam batas normal atau tidak, rinciannya dapat dilihat dalam table dibawah ini:

Studi
Deskripsi dan Tujuan
Nilai Normal
Hb




Hct




Total RBC






Isi sel darah merah
MCV (mean corpuscular volume)


MCH (mean corpuscular haemoglobin)


MCHC (mean corpuscular haemoglobin concentration)

WBC
WBC dilferensial








Platelet
Mengukur kapasitas pengangkutan gas oleh sel darah merah



Mengukur volume sel dari darah merah yang diekspresikan sebagai persentasi dari volume darah total


Hitung jumlah sel darah merah dalam sirkulasi







Membedakan ukuran relative sel darah merah, kekurangan MCV refleksi dari mikrositosis, penigkatan MCV  refleksi makrositosi

Mengukur rata-rata berat dari Hb/RBC; MCH yang rendah indikasi dari mikrositosis atau hipokromia, MCHC meninggi dari makrositosis

Evaluasi saturasi RBC dengan Hb; MCHC rendah indikasi dari hipokromia, MCHC tinggi terjadi pada spherocytosis


Mengukur jumlah total leukosit
Membedakan masing-masing bagian sel darah putih, membedakan nilai absolute dengan mengalikan persentasi tipe sel oleh jumlah total sel darah putih dan membagi dengan 100





Mengukur jumlah platelet untuk mempertahankan fungsi pembekuan (tidak mengukur kualitas fungsi platelet)
Wanita: 12-16 g/dl (120-160 g/L)
Pria: 13.5-18 g/dl (135-180 g/L)

Wanita: 38-47 % (38-47)
Pria: 40-54 % (40-54)


Wanita 4,0-5,0 X 10 pangkat 6/µl (4,0-5,0 X 10 pangkat 12/L)
Pria: 4,5-6,0 X 10 pangkat 6/µl (4,5-6,0 X 10 pangkat 12/L)



82-98 fl




23-33 pg




32-36% (0,32-0,36)




4.000-11.000/µl (4-11 pangkat 9/L)
Neutropil: 50-70% (0,50-0,70)
Eusinopil: 2-4% (0,2-0,4)
Basopil: 0-2% (0-0,2)
Lymposit: 20-40% (0,20-0,40)
Monosit: 4-8% (0,4-0,8)

150.000-400.000 /µl (150-400 X 10 pangkat 9/L)


2.2.2. Pemeriksaan Factor Pembekuan
Perawat melakukan pemeriksaan kolaboratif untuk menilai apakah factor pembekuan dalam batas normal atau tidak, dapat dilihat dalam table dibawah ini:
Studi
Deskripsi dan Tujuan
Nilai Normal
Jumlah platelet


Protrhrombin time (PT)

International normalized ratio (INR)

Activated partial thromboplastin time (APTT)

Automated coagulation time (ACT)

Thromboplastin generation test (TGT)

Bleeding time


Thrombin time



Fibrinogen





Fibrin split products



Clot retraction



Capillary fragility test (tourniquet test, Rumpel-Leede test)

Protamine sulfate test
Hitung jumlah dari platelet dalam sirkulasi


Pengkajian koagulasi ekstrinsik dengan mengukur factor I, II, V, VII, X

Standarisasi system dari PT berdasarkan referensi model kalibrasi dan dihitung dengan membandingkan PT pasien dengan nilai control

Pengkajian koagulasi inntrinsik dengan mengukur factor I, II, V, VIII, IX, X, XI, XII; memanjang bila menggunakan heparin


Evaluasi koagulasi intrinsic; lebih akurat dari APTT; digunakan selama dialysis, prosedur bypass arteri koroner, arteriogram

Refleksi dari generasi tromboplastin; bila abnormal, dilakukan tahap kedua untuk mengidentifikasi kehilangan factor koagulasi

Mengukur perdarahan insisi kulit yang kecil; refleksi dari kemampuan konstriksi pembuluh darah kecil

Refleksi adekuasi trombin; perpanjangan trombin time indikasi inadekuat koagulasi sekunder terhadap penurunan aktifitas trombin

Refleksi dari kadar fibrinogen; peningkatan fibrinogen kemungkinan mengindikasikan peningkatan pembentukan fibrin, membuat pasien hiperkoagulasi; penurunan fibrinogen indikasi dari kemungkinan pasien risiko perdarahan

Refleksi dari derajad fibrinolisis; refleksi dari kelebihan fibrinolisis dan predisposisi terjadi perdarahan (bila ada); kemungkinan indikasi dari disseminated intravascular coagulation (DIC)

Refleksi dari retraksi pembekuan dari efek test tube setelah 24 jam; digunakan untuk mengkonfirmasi masalah platelet

Refleksi dari integritas kapiler ketika tekanan positif atau negative dilakukan untuk bagian tubuh yang berbeda; test positif mengindikasikan trombositopenia, reaksi vascular toksik


Refleksi dari adanya monomer fibrin (bagian fibrin setelah elemen polimerisasi dan stabilisasi pembekuan); test positif mengindikasikan predisposisi terjadi perdarahan dan kemungkinan adanhya DIC
15.000-400.000/µl

12-15 sec


2.0-3.0*



30-45 sec




150-180



<12 sec (100%)


1-6 min


8-12 sec



200-400 mg/dl (2.0-4.0g/L)



<10mg/L




50-100% dalam 24 jam


No peteki atau negative




Negative



2.2.3. Berbagai Pemeriksaan  Darah
Perawat melakukan pemeriksaan kolaboratif untuk mengetahui berbagai komponen dalam darah apakah dalam batas normal atau tidak, dapat dilihat pada table di bawah ini:

Studi
Deskripsi dan Tujuan
Nilai Normal
ESR






Jumlah Reticulosyte



Billirubin






Iron
    Serum



    Total iron-binding  capacity

Coombs’test


    Direct


    Indirect

Morfologi sel

Antibody HIV

Antiplatelet antibody

Antinuclear antibody

Antiglobulin test
Mengukur sedimentasi atau pengendapan sel darah merah dalam 1 jam. Proses inflamatori menyebabkan perubahan protein plaslma, menghasilkan agregasi seldarah merah dan membuat mereka bertambah berat. Sedimentasi yang lebih cepat, ESR meninggi

Mengukur sel darah merah immature, refleksi dari aktifitas sumsum tulang memproduksi sel darah merah


Mengukur tingkat hemolisis sel darah merah atau ketidakmampuan liver untuk mengekskresikan jumlah normal bilirubin; meningginya bilirubin indirek dengan masalah hemolitik



Refleksi dari jumlah iron dikombinasi dengan protein dalam serum; akurat mengindikasikan status penyimpanan iron dan penggunaannya

Mengukur persentasi dari saturasi transferring, protein mengikat iron; evaluasi jumlah dari iron ekstra yang dapat di bawa

Diferensiasi tipe anemia hemolitik; deteksi dari antibody immune

Deteksi dari antibody yang mendekati sel darah merah

Deteksi dari antibody dalam serum



Deteksi bentuk sel darah (megatrombosit)

Deteksi factor risiko terinfeksi

Deteksi factor risiko

Deteksi factor risiko

Deteksi anemia dan trombositopenia
Wanita: 1-20 mm dalam 1 jam
Pria: 1-15 mm dalam 1 jam



0,5-1,5% dari jumlah sel darah merah
(0,005-0,015 dari RBC)

Total: 0,2-1,3 mg/dl (3,4-22µmol/L)
Direct: 0,1-0,3mg/dl (1,7-5,1 µmol/L)
Indirect: 0,1-1,0 mg/dl (1,7-17 µmol/L)

50-150 µg/dl (9,0-26,9 µmol/L)


250-410 µg/dl (45-73 µmol/L)





Negative


Negative



Normal

Negative

Negative

Negative

Negative


2.2.4. Pemeriksaan  Sistem Hematologi
Perawat melakukan pemeriksaan kolaboratif system hematology untuk mengetahui apakah kondisinya dalam batas normal atau tidak, dapat di lihat pada table di bawah ini:
Pemeriksaan
Deskripsi dan Tujuan
Tanggungjawab Keperawatan
Pemeriksaan Urine
Bence Jones protein





Radioisotope
Scan liver/spleen




Bone scan




Isotopic lymphangiography





Radiology
Lymphangiograpraphy

























Computed tomography (CT)



Magnetic resonance imaging (MRI)







Biopsy
Bone marrow












Lymph node biopsy



Open



Closed (needle)


Pengukuran menggunakan elektroporetik untuk medeteksi adanya protein Bence Jones, yang dapat terjadi pada kondisi multiple myeloma, hasil negative mengindikasikan pasien normal


Radioaktif isotop diinjeksikan melalui IV. Gambaran dari pancaran radioaktif digunakan untuk mengevaluasi struktur limpa dan liver.

Prosedur sama dengan skan limpa, dalam hal ini digunakan untuk tujuan evaluasi struktur tulang


Radionuclide digunakan untuk mengkaji kelenjar getah bening dan system kelenjar getah bening. Technetium 99m. teknik ini lebih invasive dari pada radiografi lymphangiography


Tujuannya adalah untuk mengevaluasi nodus lymph secara cermat. Radiopaque zat kontras berupa minyak di infuskan perlahan ke dalam pembuluh lymph melalui jarum kecil pada dorsal kaki. Radioghraph segera diambil dan juga pada hari berikutnya



















Pemeriksaan radiology noninvasive menggunakan computer dan sinar –x mengevaluasi limpa, liver atau nodus lymph

Prosedur noninvasive memberikan gambaran sensitive dari jaringan lunak tanpa menggunakan zat kontras. Tanpa ionisasi radiasi. Teknik ini digunakan untuk mengevaluasi limpa, liver, dan nodus lymph




Dengan teknik mengeluarkan sumsum tulang melalui area anestesi local untuk mengevaluasi status jaringan pembentukan darah. Digunakan untuk mendiagnosa multiple myeloma, semua tipe leukemia, dan beberapa limpoma dan tumor (misalnya tumor payudara). Juga untuk mengkaji kemanjuran terapi leukemia




Tujuan untuk pemeriksaan histology lymph      untuk menentukan diagnosis dan terapi

Dilakukan saat operasi dengan visualisasi langsung pada area bersangkutan

Dilakukan di tempat tidur atau ruang khusus
Mengambil specimen urine






Tidak ada yang spesifik




Tidak ada yang spesifik




Tidak ada yang spesifik







Informasikan kepada psien tentang apa yang harus di antisipasi. Siapkan format persetujuan. Kaji sensitifitas terhadap iodine. Gerikan preparat sedasi, bila di perlukan. Instruksikan ke pasien bahwa urine akan berwarna kebiruan akibat pengeluaran zat konntras melalui urine selama 1-2 hari. Informasikan tentang dapat mengalami demam, kelemahan, dan pegal otot selama 12-4 jam. Tanda-tanda dari emboli minyak ke dalam paru-paru (batuk-batuk, dispnu, nyeri pleuritik, dan batuk darah)

Tidak ada yang spesifik




Instruksikan pasien untuk melepas benda dari bahan metal dan katakana tanyakan tentang riwayat pembedahan pemasangan plate, atau bahan metal lainnya.


Jelaskan prosedur ke pasien. Siapkan format persetujuan. Jelaskan preprosedur akan diberikan analgesic untuk meningkatkan rasa nyaman dan koperatif. Lakukan balutan yang menekan setelah prosedur. Kaji perdarahan di area biopsy

Jelaskan prosedur ke pasien. Siapkan format persetujuan. Gunakan teknik steril saat mengganti balutan setelah prosedur. Evaluasi dengan teliti adanya komplikasi, terutama perdarahan dan edema



2.2.5. Pemeriksaan Golongan Darah

Golongan
RBC aglutinogen
Serum aglutinin
Donor yang
dapat diterima
Donor yang tidak dapat diterima
A
B
AB
O
A
B
A dan B
Donor universal
Anti-B
Anti-A
---
Anti-A dan anti-B
A dan O
B dan O
A, B, AB, dan O
O
B dan AB
A dan AB
---
A, B, dan AB



3. Diagnosa Keperawatan
Mengacu pada hasil pengkajian tersebut, kemungkinan diagnosa keperawatan yang dapat terjadi pada kondisi pasien dengan gangguan system hematology antara lain sebagai berikut:

  1. Intolerasi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan lesu ditandai dengan sulit/tidak dapat mentoleransi peningkatan aktifitas ( misalnya, pols meningkat, respirasi rate meningkat saat istirahat dan/atau beraktifitas)
  2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan penangnanan ditandai dengan berat badan menurun, serum albumin rendah, kadar besi menurun, defisiensi vitamin, berat badan lebih rendah dari biasanya
  3. Inefektif penanganan rejimen terapeutik berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang gaya/kebiasaan hidup, kebutuhan nutrisi, dan penanganan obat-obatan ditandai dengan menanyakan tentang kebiasaan hidup yang diperlukan, diet, obatk-obatan.
  4. MASALAH KOLABORASI risiko komplikasi: hypoxemi berhubungan dengan penurunan hemoglobin
  5. Rlisiko perubahan membrane mukosa berhubungan dengan penanganan, penyakit, atau bulla yang berisi darah
  6. Risiko injuri berhubungan dengan intervensi dan sensitifitas jaringan terhadap trauma
  7. MASALAH KOLALBORASI risiko perdarahan berhubungan dengan kehilangan darah secara akut
  8. Perubahan perfusi jaringan serebrall, kardiopulmonal, ginjal, saluran cerna, dan perifer berhubungan dengan perdarahan dan lebam atau gangguan aliran darah sekunder terhadap trombosis
  9. Nyeri berhubungan dengan perdarahan ke dalam jaringan dan prosedur diagnostic
  10. Penurunan kardiak output berhubungan dengan deficit volume cairan dan hipotensi
  11. Cemas berhubungan dengan ketakutan akibat kurangnya pengetahuan, proses penyakit, prosedur diagnostic dan terapi
  12. Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan neutropil dan perubahan respon terhadap invasi mikroba dan adanya lingkungan yang pathogen























Komponen
Hb/Hct
MCV
MCH
MCHC
Retikulosit
Serum besi
TIBC
Bilirubin
Platelet
Lain-lain
Defisiensi besi



Thalasemia mayor


                       

Sianokobalmin
(vitamin B12)



Defisiensi asam folat



Anemia aplastik


Penyakit kronik


Kehilangan darah akut

Kehilangan darah kronik

Anemia sikel sel



Anemia hemolitik
Menurun



Menurun




Menurun




Menurun




Menurun


Menurun


Menurun


Menurun


Menurun



Menurun 


Menurun



Normal




Meninggi




Meninggi




Normal


Normal


Normal


Menurun


Normal



Normal
Menurun



Normal




Normal atau sedikit menurun

Normal atau sedikit menurun

Normal


Normal


Normal 


Menurun


Normal



Normal
Menurun



Normal




Meninggi




Meninggi




Normal


Normal


Normal


Menurun


Normal



Normal 
Normal / menurun


Meninggi




Menurun




Normal




Menurun


Normal


Normal


Normal / meninggi

Meninggi



Meninggi
Menurun



Meninggi




Normal




Normal




± normal


Menurun


Normal


Menurun


Normal atau meninggi

Meninggi
Meninggi



Meninggi




Normal




Normal




± normal


Menurun


Normal


Menurun


Normal atau menurun

Menurun 

Normal atau menurun

Normal atau menurun


Meninggi




Normal




Normal


Normal


± normal


Normal


Normal atau menurun

Meninggi

Normal atau meninggi
Normal atau meninggi

-





Menurun




-




Menurun


Meninggi


-


Meninggi


Meninggi 



-
-



Vitamin B12 menurun, test Schilling positif, achlorhydria

Folat menurun




WBC menurun




-


-


-






-

KETERANGAN

          Tabel diatas menunjukkan perubahan nilai normal kearah pengurangan, peningkatan, dari hasil pemeriksaan laboratorium komponen darah. Hb., hemoglobin; Hct, hematokrin; MCH, mean corpuscular hemoglobin; MCHC, mean corpuxcular hemoglobin concentration; MCV, mean corpuscular volume; N, normal; TIBC, total iron-binding capacity; WBC, white blood cell





Tidak ada komentar:

Posting Komentar