“VITAMIN”
d
i
s
u
s
u
n
oleh:
PSIK II
A
DORYANTI RAJAGUKGUK

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MEDISTRA LUBUK PAKAM
T.A 2013/2014
Puji
dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat
dan limpahan rahmatnyalah maka penulis dapat menyelesaikan sebuah karya tulis yang
berjudul “VITAMIN” ini dengan tepat waktu untuk memenuhi tugas dari Ibu Bunga selaku
dosen mata kuliah Farmakologi.
Melalui
kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman
bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kurang tepat atau
menyinggung perasaan pembaca.
Penulis menyadari bahwa masih
sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karna itu penulis
mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kemajuan ilmu pengetahuan.
Dengan ini penulis mempersembahkan
makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Tuhan memberkati makalah
ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Lubuk
Pakam, Desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang ................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah.............................................................................................. 2
1.3. Tujuan
Penulisan................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Vitamin............................................................................................. 3
2.2 Sejarah Vitamin3................................................................................................. 4
2.3 Jenis-Jenis Vitamin............................................................................................. 7
2.4 Senyawa Serupa Vitamin.................................................................................... 11
2.5 Vitamin Sebagai Antioksidan............................................................................. 11
2.6 Vitamin dan Penuaan Tubuh............................................................................... 12
2.7 Pengaruh kelebihan dan kekurangan vitamin..................................................... 13
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan ........................................................................................................ 17
3.2. Saran 17
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................................. 18
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang
memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Diketahui bahwa
banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini
digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.
Vitamin adalah senyawa kimia yang
sangat esensial yang walaupun tersedianya dalam tubuh dalam jumlah demikian
kecil, diperlukan sekali bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh yang normal.
Vitamin berfungsi dalam beberapa tahap reaksi metabolism energy, pertumbuhan,
dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya sebagai koenzim atau sebagai bagian dari
enzim. Sebagian besar koenzim terdapat dalam bentuk apoenzim yaitu vitamin yang
terikat dengan protein. Hingga sekarang fungsi biokimia beberapa jenis vitamin
belum diketahui dengan pasti.Vitamin digolongkan menjadi 2 bagian yaitu vitamin
yang larut air dan vitamin yang larut lemak. Vitamin yang larut air yaitu
Vitamin B dan C sedangkan Vitamin yang larut Lemak yaitu Vitamin A,D,E dan K.
Setiap vitamin larut lemak A,D,E dan K mempunyai peranan faal tertentu di
dalam tubuh.Sebagian besar vitamin larut lemak diabsorpsi bersama lipida lain.
Absorpsi membutuhkan cairan empedu dan pancreas. Vitamin larut lemak diangkut
kehati melalui system limfe sebagai bagian dari lipoprotein, disimpan di
berbagai jaringan tubuh dan biasanya tidak dikeluarkan melalui urin.
Vitamin ada 2 macam yaitu larut dalam lemak ( A,D,E dan K)
serta vitamin yang larut dalam air ( B kompleks dan C) yang masing-masing
memiliki peranan penting. Buah-buahan dan sayuran terkenal memiliki kandungan vitamin
yang tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk tubuh. Asupan vitamin lain
dapat diperoleh melalui suplemen
makanan.
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat
pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi,
tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah
sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak
dapat digantikan oleh senyawa lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan
istilah avitaminosis. Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin A maka kita akan mengalami kerabunan. Di samping itu, asupan
vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan
metabolisme pada tubuh.
1.2.Rumusan Masalah
ü Apakah pengertian vitamin?
ü Bagaimanakah sejarah tentang
vitamin?
ü Apa saja jenis vitamin,fungsi, dan
sumber vitamin diperoleh?
ü Apa akibat dari kekurangan dan
kelebihan vitamin?
1.3.Tujuan Penulisan
Berdasarkan
Rumusan masalah di atas, penulisan makalah ini memilki tujuan sebagai berikut:
Ø Mengetahui pengertian vitamin.
Ø Mengetahui tentang sejarah vitamin.
Ø Mengetahui jenis vitamin dan sumber
vitamin yang diperoleh.
Ø Mengetahui akibat dari kekurangan
dan kelebihan vitamin.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Vitamin
Vitamin (bahasa Inggris: vital amine, vitamin) adalah
sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi
vital dalammetabolism setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh
tubuh.Nama ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vital yang artinya
"hidup" dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang
memiliki atomnitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak
diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N.
Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor
dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin
ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.
Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk
dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Vitamin tersebut antara lain
vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat,
biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat).Walau memiliki peranan yang sangat
penting, tubuh hanya dapat memproduksi vitamin D dan vitamin K dalam bentuk
provitamin yang tidak aktif.Oleh karena itu, tubuh memerlukan asupan vitamin
yang berasal dari makananyang kita konsumsi.Buah-buahan dan sayuran terkenal
memiliki kandungan vitamin yang tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk
tubuh. Asupan vitamin lain dapat diperoleh melalui suplemen makanan.
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat
pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi,
tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam
jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam
tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa
lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis.Contohnya
adalah bila kita kekurangan vitamin A maka kita akan mengalami kerabunan. Di
samping itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat
menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh
2.2.
Sejarah Vitamin
Vitamin merupakan suatu senyawa yang telah lama dikenal oleh
peradaban manusia.Sudah sejak ribuan tahun lalu, manusia telah mengenal vitamin
sebagai salah satu senyawa yang dapat memberikan efek kesehatan bagi
tubuh.Seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, berbagai hal dan
penelusuran lebih mendalam mengenai vitamin pun turut diperbaharui.Garis besar
sejarah vitamin dapat dibagi menjadi 5 era penting.Disetiap era tersebut,
terjadi suatu kemajuan besar terhadap senyawa vitamin ini yang diakibatkan oleh
adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.
1. Era penyembuhan empiris
Era pertama dimulai pada sekitar tahun 1500-1570 sebelum
masehi. Pada masa itu, banyak ahli pengobatan dari berbagai bangsa, seperti
Mesir, Cina, Jepang, Yunani, Roma, Persia, dan Arab, telah menggunakan ekstrak
senyawa (diduga vitamin) dari hati yang kemudian digunakan untuk menyembuhkan
penyakit kerabunan pada malam hari. Penyakit ini kemudian diketahui disebabkan
oleh defisiensi vitamin A. Walau pada masa tersebut ekstrak hati tersebut
banyak digunakan, para ahli pengobatan masih belum dapat mengidentifikasi
senyawa yang dapat menyembuhkan penyakit kerabunan tersebut.Oleh karena itu,
era ini dikenal dengan era penyembuhan empiris (berdasarkan
pengalaman).Christiaan Eijkman, salah satu tokoh penting dalam sejarah penemuan
vitamin.
2. Era karakterisasi
defisiensi
Perkembangan besar berikutnya mengenai vitamin baru kembali
muncul pada tahun 1890-an. Penemuan ini diprakarsai oleh Lunin dan Christiaan
Eijkman yang melakukan penelitian mengenai penyakit defisiensi pada hewan.
Penemuan inilah yang kemudian memulai era kedua dari lima garis besar sejarah
vitamin di dunia. Penelitian mereka terfokus pada pengamatan penyakit akibat
defisiensi senyawa tertentu.Beberapa tahun berselang, ilmuwan Sir Frederick G.
Hopkins yang sedang melakukan analisis penyakit beri-beri pada hewan menemukan
bahwa hal ini disebabkan oleh kekurangan suatu senyawa faktor pertumbuhan
(growth factor). Pada tahun 1911, seorang ilmuwan kelahiran Amerika bernama Dr.
Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu senyawa yang telah dibuktikan dapat
mencegah peradangan saraf(neuritis) untuk pertama kalinya. Dr. Casimir juga
berhasil mengisolasi senyawa aktif dari sekam beras yang diyakini memiliki
aktivitas antiberi-beri pada tahun berikutnya.Pada saat itulah (dan untuk
pertama kalinya), Dr Funk mempublikasikan senyawa aktif hasil temuannya
tersebut dengan istilah vitamine (vital dan amines). Pemberian nama amines pada
senyawa vitamin ini karena diduga semua jenis senyawa aktif ini memiliki gugus
amina (amine). Hal tersebut kemudian segera disanggah dan diganti menjadi
vitamin (dengan penghilangan akhiran huruf "e") pada tahun 1920.
3. Masa keemasan
Era ketiga sejarah vitamin terjadi beberapa dekade
berikutnya.Pada masa tersebut, terjadi banyak penemuan besar mengenai vitamin
itu sendiri, meliputi penemuan vitamin jenis baru, metode penapisan yang
diperbahurui, penggambaran struktur lengkap vitamin, dan síntesis vitamin
B12.Oleh karena hal tersebutlah, era ketiga dari garis besar sejarah vitamin
ini dikenal dengan masa keemasan (golden age). Banyak penelti yang mendapatkan
hadiah nobel atas penemuannya di bidang vitamin ini.Sir Walter N. Hawort
mendapatkan nobel di bidang kimia atas penemuan vitamin C pada tahun 1937.
Hadiah nobel lainnya diperoleh oleh Carl Peter Henrik Dam di bidang Fisiologi -
Pengobatan pada tahun 1943 atas penemuannya terhadap vitamin K. Fritz A Litmann
juga turut memenangkan nobel atas dedikasinya dibidang penelitian mengenai
penemuan koenzim A dan perannya di dalam metabolisme tubuh. Tadeus Reichstein,
seorang ahli kimia yang berhasil memproduksi vitamin C secara massal untuk
pertama kalinya dalam sejarah.
4. Era karakterisasi fungsi
dan produksi
Era keempat ditandai dengan banyaknya penemuan mengenai
fungsi biokimia vitamin di dalam tubuh, perannya dalam makanan yang kita
konsumsi sehari-hari, dan produksi komersial vitamin untuk pertama kalinya
dalam sejarah.Pada tahun 1930-an, para peneliti menemukan bahwa vitamin B2
merupakan bagian dari “enzim kuning”.Vitamin B2 ini sendiri diperoleh dari
ekstrak ragi.Melalui penelitian ini juga, kelompok vitamin B diketahui berperan
sebagai koenzim yang penting di dalam tubuh manusia.Produksi masal vitamin
untuk pertama kalinya juga terjadi pada era ini.Dikomersilkan pertama kali oleh
Tadeus Reichstein pada tahun 1933, vitamin C telah dijual kepada masyarakat
luas dengan harga yang relatif murah sehingga terjangkau bagi khalayak
ramai.Vitamin C yang juga dikenal dengan istilah asam askorbat ini kemudian
banyak dipakai sebagai suplemen makanan, penelitian, dan gizi tambahan bagi
hewan ternak. Atas hasil penemuan ini, Tadeus Reichstein mendapatkan nobel di
bidang Fisiologi – Pengobatan pada tahun 1950.
5. Era penemuan nilai
kesehatan vitamin
Hanya dalam waktu 1 dekade berikutnya setelah era vitamin
keempat, perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa vitamin keera berikutnya,
yaitu era kelima dimana banyak ditemukan nilai kesehatan dari masing-masing
jenis vitamin dan penemuan baru mengenai fungsi biokimia vitamin bagi tubuh.
Masa ini dimulai pada tahun 1955 ketika Rudolf Altschul menemukan bahwa niasin
(vitamin B3) dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.Peranan kesehatan
ini terlepas dari efek defisiensi vitamin B3 itu sendiri maupun perannya
sebagai koenzim dalam metabolisme tubuh.
Tahun Penemuan Vitamin
Tahun penemuan vitamin alami dan sumbernya
|
|||
Tahun penemuan
|
Vitamin
|
Nama biokimia
|
Ditemukan di
|
1909
|
Vitamin
A
|
||
1912
|
Vitamin
B1
|
||
1912
|
Vitamin
C
|
||
1918
|
Vitamin
D
|
||
1920
|
Vitamin
B2
|
||
1922
|
|||
1926
|
Vitamin
B12
|
Telur
|
|
1929
|
|||
1931
|
Vitamin
B5
|
||
1931
|
Vitamin
B7
|
Hati
|
|
1934
|
Vitamin
B6
|
Kacang
|
|
1936
|
Vitamin
B3
|
Ragi
|
|
1941
|
Vitamin
B9
|
Hati
|
|
2.3.
Jenis-Jenis Vitamin
Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2
kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam
lemak.Hanya terdapat 2 vitamin yang larut dalam air, yaitu B dan C, sedangkan
vitamin lainnya, yaitu vitamin A, D, E, dan K bersifat larut dalam lemak.
Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak)
dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke
seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan
beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan
hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh.
Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin
larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan
segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh
tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke
seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang
tubuh bersamaurin.Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin
larut air secara terus-menerus.
Vitamin yang larut dalam lemak:
1. Vitamin A
Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan
vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama
di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina.
Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan
imunitas tubuh.Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya
matahari, dan udara. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin A, antara
lain susu, ikan, sayur-sayuran (terutama yang berwarna hijau dan kuning), dan
juga buah-buahan (terutama yang berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah,
wortel, pisang, dan pepaya).
2. Vitamin D
Vitamin D juga merupakan salah satu jenis vitamin yang
banyak ditemukan pada makanan hewani, antara lain ikan, telur, susu, serta
produk olahannya, seperti keju. Bagian tubuh yang paling banyak dipengaruhi
oleh vitamin ini adalah tulang.Vitamin D ini dapat membantu metabolisme kalsium
dan mineralisasi tulang. Sel kulit akan segera memproduksi vitamin D saat
terkena cahaya matahari (sinar ultraviolet).
3. Vitamin E
Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan
di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga
hati.Selain itu, vitamin ini juga dapat melindungi paru-paru manusia dari
polusi udara.Nilai kesehatan ini terkait dengan kerja vitamin E di dalam tubuh
sebagai senyawaantioksidan alami.Vitamin E banyak ditemukan pada ikan, ayam,
kuning telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan.
4. Vitamin K
Vitamin K banyak berperan dalam pembentukan sistem peredaran
darah yang baik dan penutupan luka.Selain itu, vitamin K juga berperan sebagai
kofaktor enzim untuk mengkatalis reaksi karboksilasi asam amino asam
glutamat.Oleh karena itu, kita perlu banyak mengonsumsi susu, kuning telur, dan
sayuran segar yang merupakan sumber vitamin K yang baik bagi pemenuhan
kebutuhan di dalam tubuh. Sel darah merah, terbentuk sempurna oleh kontribusi
vitamin B, C, dan E, serta asam para-aminobenzoat.
Vitamin yang larut dalam air:
1. Vitamin C
Vitamin C (asam askorbat) banyak memberikan manfaat bagi
kesehatan tubuh kita.Di dalam tubuh, vitamin C juga berperan sebagai senyawa
pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit,
sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya.Vitamin C merupakan senyawa
antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di
sekitar lingkungan kita.Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal radikal
bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko
timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat
diturunkan.Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur
dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot.Vitamin ini juga berperan
dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih
dari infeksi mikroorganisme patogen.Melalui mekanisme inilah vitamin C berperan
dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis
penyakit.Sumber vitamin C buah jeruk, tomat, arbei, kangkung, kentang, cabai
hijau, selada hijau, jambu biji.
2. Vitamin B
Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam
metabolisme di dalam tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat
beraktivitas.Hal ini terkait dengan peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai
senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi metabolisme tubuh terhadap
berbagai jenis sumber energi.Beberapa jenis vitamin yang tergolong dalam
kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah
(eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan
sayur-sayuran hijau.
3. Vitamin B1
Vitamin B1, yang dikenal juga dengan nama tiamin, merupakan
salah satu jenis vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan
kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan
tubuh untuk rutinitas sehari-hari. Di samping itu, vitamin B1 juga membantu
proses metabolisme protein danlemak. Sumber vitamin B1berasal dari jantung, hati, ginjal, ber, ragi, gandum,
kedelai, susu, kacang tanah dan kacang-kacangan.
4. Vitamin B2
Vitamin B2 (riboflavin) banyak berperan penting dalam
metabolisme di tubuh manusia.Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah
satu kompenen koenzimflavin mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin
adenine dinukleotida (adenine dinucleotide, FAD). Kedua enzim ini berperan
penting dalam regenerasi energi bagi tubuh melalui proses respirasi. Vitamin
ini juga berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan
glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit,
rambut, dan kuku.Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran segar,
kacang kedelai, kuning telur, dan susu.
5. Vitamin B3
Vitamin B3 juga dikenal dengan istilah niasin.Vitamin ini
berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi,
metabolisme lemak, danprotein. Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan
besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan
migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat dinetralisir dengan
bantuan vitamin ini.Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang banyak
ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan.
Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung
vitamin ini dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan kentang manis.
6. Vitamin B5
Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi
enzimatik di dalam tubuh.Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam
berbagai jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan,
terutama lemak.Peranan lain vitamin ini adalah menjaga komunikasi yang baik
antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol,
neurotransmiter, dan hormon tubuh.Vitamin B5 dapat ditemukan dalam berbagai
jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal, dan hati hingga
makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau.
7. Vitamin B6
Vitamin B6, atau dikenal juga dengan istilah piridoksin,
merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini berperan
sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan
energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid.
Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolismenutrisi dan memproduksi
antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing
yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang
mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung,
kacang-kacangan, daging, dan ikan
8. Vitamin B12
Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang
hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman.Oleh karena
itu, vegetarian sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat
kekurangan vitamin ini.Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di
dalam tubuh. Vitamin B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan
dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA,
pembentukkan platelet darah.Telur, hati, dan daging merupakan sumber makanan
yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12.
Fungsi
vitamin secara umum:
Vitamin berperan dalam beberapa tahap reaksi metabolism
energy, pertumbuhan, dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya sebagai
koenzim.Sebagian besar koenzim terdapat dalam bentuk apoenzim, yaitu vitamin
yang terikat dengan protein.Hingga sekarang fungsi biokimia beberapa jenis belum
diketahui dengan pasti.Konstribusi suatu makanan terhadap kandungan vitamin
makanan sehari – hari bergantung pada jumlah vitamin yang semula terdapat dalam
makanan tersebut, jumlah yang rusak pada saaat panen atau penyembelihan,
penyimpanan, pemrosesan dan pemasakan. Pada saat dan penyimpanan sejumlah
vitamin akan hilang, bergantung pada suhu, penyingkapan terhadap udara dan
matahari, serta lama disimpan akan semakin banyak vitamin yang hilang.
2.4.
Senyawa Serupa Vitamin
Sel darah merah, terbentuk sempurna oleh kontribusi vitamin
B, C, dan E, serta asam para-aminobenzoat. Selain vitamin, tubuh juga memproduksi senyawa lain yang juga
berperan dalam kelancaran metabolisme di dalam tubuh. Senyawa ini memiliki
karakteristik dan aktivitas yang mirip dengan vitamin sehingga seringkali
disebut dengan istilah senyawa serupa vitamin (vitamin like substances).
Perbedaan utamanya dengan vitamin adalah senyawa ini diproduksi tubuh dalam
jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa senyawa ini
pernah diklasifikasikan ke dalam kelompok vitamin B kompleks karena kemiripan
fungsi dan sumber makanannya. Akan tetapi, secara umum peranan senyawa serupa
vitamin ini tidaklah sepenting vitamin. Kolin (choline) merupakan salah
satu senyawa yang termasuk dalam golongan senyawa serupa vitamin. Senyawa ini
dapat ditemukan di setiap sel mahluk hidup dan berperan dalam pengaturan sistem
saraf yang baik dan beberapa metabolisme sel. Mioinositol (myoinositol)
juga termasuk dalam golongan senyawa serupa vitamin yang larut dalam air.
Peranannya dalam tubuh secara spesifik belum diketahui. Contoh lain dari
senyawa serupa vitamin ini adalah asam para-aminobenzoat (4-aminobenzoic
acid, PABA) yang berperan sebagai senyawa antioksidan dan penyusun sel
darah merah. Karnitin (carnitine) merupakan senyawa lain yang berperan
dalam sistem transportasi asam lemak dan pembentukkan otot tubuh.
2.5 Vitamin sebagai antioksidan
Semua jenis kehidupan di bumi
memerlukan energi untuk dapat bertahan hidup. Untuk menghasilkan energi ini,
makhluk hidup memerlukan bantuan berbagai substansi, salah satunya adalah
oksigen. Oksigen terlibat secara langsung dalam metabolisme energi
di dalam tubuh. Sebagai produk sampingannya, oksigen dilepaskan dalam bentuk
yang tidak stabil. Molekul inilah yang dikenal dengan nama radikal bebas (free
radicals). Oksigen yang tidak stabil memiliki elektron bebas yang tidak
berpasangan sehingga bersifat reaktif. Kereaktifan oksigen ini sangat berbahaya
bagi tubuh karena dapat mengoksidasi dan merusak DNA, protein, karbohidrat,
asam lemak, dan membran sel di dalam tubuh. Sumber radikal bebas lainnya adalah
asap rokok, polusi lingkungan, dan sinar ultraviolet.
Asap rokok, salah satu sumber radikal
bebas yang dapat merusak jaringan tubuh, terutama paru-paru.Tubuh memiliki
beberapa mekanisme pertahanan terhadap senyawa radikal bebas ini untuk
menetralkan efek negatifnya. Kebanyakan diantaranya adalah senyawa antioksidan
alami, seperti enzim superoksida dismutase, katalase, dan glutation
peroksidase. Antioksidan sendiri berarti senyawa yang dapat mencegah terjadinya
peristiwa oksidasi atau reaksi kimia lain yang melibatkan molekul oksigen (O2).
Senyawa lain yang juga dapat berperan sebagai antioksidan adalah glutation,
CoQ10, dan gugus tiol pada protein, serta vitamin. Beberapa jenis vitamin telah
terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi. Contoh vitamin yang
banyak berperan sebagai senyawa antioksidan di dalam tubuh adalah vitamin C dan
vitamin E.
Vitamin E dapat membantu melindungi
tubuh dari oksidasi senyawa radikal bebas. Vitamin ini juga mampu bekerja dalam
kondisi kadar senyawa radikal bebas yang tinggi sehingga mampu dengan efisien
dan efektif menekan reaksi perusakan jaringan di dalam tubuh melalui proses
oksidasi. Di samping vitamin E, terdapat satu jenis vitamin lagi yang juga
memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, yaitu vitamin C. Vitamin ini
berinteraksi dengan senyawa radikal bebas di bagian cairan sel. Selain itu,
vitamin C juga dapat memulihkan kondisi tubuh akibat adanya reaksi oksidasi
dari berbagai senyawa berbahaya.
Bila kadar radikal bebas di dalam tubuh
menjadi sangat berlebih dan tidak lagi dapat diantisipasi oleh senyawa
antioksidan maka akan timbul berbagai penyakit kronis, seperti kanker,
arterosklerosis, penyakit jantung, katarak, alzhemeir, dan rematik. Bagi orang
yang memiliki sejarah penyakit kronis tersebut dalam garis keturunannya,
dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak makanan yang mengandung vitamin C dan E
sebagai sumber senyawa antioksidan. Selain itu, suplemen makanan juga dapat
turut membantu mengatasi masalah tersebut.
2.6. Vitamin dan Penuaan Tubuh
Penuaan tubuh merupakan hasil akumulasi
dari berbagai kerusakan sel dan jaringan yang tidak dapat diperbaiki. Pada
keadaan normal, kerusakan pada sel dan jaringan tubuh dapat diperbaiki melalui
proses replikasi sel tubuh yang juga dikenal dengan istilah mitosis. Akan
tetapi, pada berbagai kasus sel yang rusak tidak lagi dapat diperbaharui,
melainkan terus terakumulasi. Hal inilah yang berpotensi menyebabkan penuaan
pada tubuh. Senyawa radikal bebas merupakan salah satu agen yang berkontribusi
besar dalam peristiwa ini.
Mitokondria merupakan salah satu
organel sel yang paling rentan mengalami kerusakan oleh senyawa oksigen reaktif
(radikal bebas). Hal ini terkait dengan banyaknya reaksi pelepasan oksigen
bebas di dalam organel ini yang merupakan pusat metabolisme energi tubuh.
Banyak penelitian telah membuktikan bahwa tingkat kerusakan mitokondria ini
berhubungan langsung dengan proses penuaan tubuh atau panjangnya umur suatu
makhluk hidup. Selain itu, kerusakan DNA akibat reaksi oksidasi oleh radikal
bebas juga turut berperan besar dalam peristiwa ini. Oleh karena itu, tubuh
memerlukan suatu senyawa untuk menekan efek perusakan oleh radikal bebas.
Vitamin merupakan satu dari berbagai
jenis senyawa yang dapat menghambat reaksi perusakan tubuh oleh senyawa radikal
bebas terkait dengan aktivitas antioksidannya. Asupan vitamin antioksidan yang
cukup akan membantu tubuh mengurangi efek penuaan oleh radikal bebas, terutama
oleh oksigen bebas yang reaktif. Selain itu, vitamin juga berkontribusi dalam
menyokong sistem imun yang baik sehingga risiko terkena berbagai penyakit
degeneratif dan penyakit lainnya dapat ditekan, terutama pada manula. Jadi, secara tidak langsung, asupan
vitamin yang cukup dan seimbang dapat menciptakan kondisi tubuh yang sehat dan
berumur panjang.
2.7. Pengaruh kelebihan dan kekurangan vitamin:
Kekurangan
dan kelebihan Vitamin yang larut dalam lemak :
Kekurangan
|
Kelebihan
|
|
Vitamin
A
|
kekurangan vitamin A menyebabkan
buta senja, pertumbuhan terhambat, kulit terganggu.
|
menyebabkan urine berwarna kuning,
kulit, muka,dan telapak tangan tangan kelihatan kuning. Menurunkan efesiensi
penggunaan vitamin E. gejala keracunan terjadi bila mengkonsumsi vitamin A
berlebihan. Pengaruh negatif keracunan vitamin A antara lain cepat lelah,
berkurang nafsu makan, sakit kepala, muntah, kerontokan rambut, kulit kering,
nyeri tulang dan pembesaran hati.
|
Vitamin
D
|
kekurangan vitamin D menyebabkan
rakhitis pada anak.
Bila kadar vitamin D rendah maka
tubuh akan mengalami pertumbuhan kaki yang tidak normal, dimana betis kaki
akan membentuk huruf O dan X. Di samping itu, gigi akan mudah mengalami
kerusakan dan otot pun akan mengalami kekejangan. Penyakit lainnya adalah
osteomalasia, yaitu hilangnya unsur kalsium dan fosfor secara berlebihan di dalam
tulang. Penyakit ini biasanya ditemukan pada remaja, sedangkan pada manula,
penyakit yang dapat ditimbulkan adalah osteoporosis, yaitu kerapuhan tulang
akibatnya berkurangnya kepadatan tulang..
|
kelebihan
vitamin D berpengaruh negatif pada kesehatan dan menimbulkan keracunan,
kususnya bagi anak-anak. Kelebihan vitamin D menyebabkan kadar kalsium pada
darah dan urin meningkat. Pengerasan otot, dan ginjal pada gilirannya dapat
menyebabkan gangguan ginjal dan hipernensi.
Kelebihan
vitamin D dapat menyebabkan tubuh mengalami diare, berkurangnya berat badan,
muntah-muntah, dan dehidrasi berlebihan
|
kekurangan vitamin E menyebabkan
anemia.
kekurangan vitamin E dapat menyebabkan
gangguan kesehatan yang fatal bagi tubuh, antara lain kemandulan baik bagi
pria maupun wanita. Selain itu, saraf dan otot akan mengalami gangguan yang
berkepanjangan.
|
kelebihan vitamin E dapat
menggangu vitamin D dan K, menurunkan kerja kelenjar tiroid. Dalam jangka
panjang, konsumsi mega dosis suplemen vitamin E dan A sintesis diduga kuat
akan menurunkan imunitas tubuh dan memicu pertumbuhan sel-sel tumor.
|
|
Vitamin K
|
kekurangan
vitamin K menyebabkan hipotrombinemia dengan akibat masa pembekuan panjang.
Pendarahan yang tidak dapat diatasi pada bayi yang baru lahir.
|
pada
ibu-ibu hamil yang mengkonsumsi suplemen vitamin K sintesis berlebihan
cenderung melahirkan bayi yang mengalami gangguan hati.
|
Kekurangan
dan kelebihan Vitamin larut dalam air :
Jenis Vitamin
|
Kekurangan
|
Kelebihan
|
Vitamin C
|
Kekurangan
vitamin C dapat menyebabkan pendarahan, gigi rontok, luka pada gusi, luka
sukar sembuh, tulang mudah patah. Akumulasi vitamin C yang berlebihan di
dalam tubuh dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan
rusaknya sel darah merah.
|
kelebihan
vitamin C memicu pembentukan batu ginjal, hal tersebut didasarkan pada
tingginya kandungan asam urat pada urine orang yang mengkonsumsi vitamin C
lebih dari 400 mg/hari. Kelebihan vitamin C juga berakibat pada peningkatan
penyerapan berbagai mineral, termasuk mineral yang menjadi racun bagi tubuh
seperti merkuri.
|
Vitamin B1
|
Tubuh
juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung, dan
sistem saraf.
defisiensi
vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering dan
bersisik.
|
Vitamin
B kompleks, kelebihan vitamin B juga dikeluarkan melalui urine dan dapat
mengganggu fungsi ginjal. Meningkatkan kerja organ dan system metabolism
tubuh yang terlibat dalam proses produksi energy dan cenderung meningkatkan
glukosa darah dan radikal bebas. Kelebihan vitamin B3 dapat menyebabkan
peningkatan penggunaan glikogen otot, kulit panas dan gatal, gangguan denyut
jantung, gangguan ginjal dan diabetes. Kelebihan vitamin B6 dapat mengganggu
system saraf, seperti pada ujung jari tangan dan kaki. Bila terjadi
defisiensi vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit
kering dan bersisik.
|
Vitamin B2
|
Defisiensinya
dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, kulit kering bersisik, mulut
kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan.
|
Keilosis,
dermatitis, seboroika pada muka, lidah magenta, gangguan fungsional, dan
organic pada mata.
|
Vitamin B5
|
Seperti
halnya vitamin B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit
pecah-pecah dan bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah
keram otot serta kesulitan untuk tidur.
|
|
Vitamin B6
|
Kekurangan
vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot,
dan insomnia.
|
|
Vitamin B12
|
Kekurangan
vitamin ini akan menyebabkan anemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu, dan
iritasi kulit.
|
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian makalah ini, dapat disimpulkan :
Ø Terdapat 13 jenis vitamin yang
dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Vitamin
tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin, riboflavin, niasin,
asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat).
Ø vitamin dapat dibagi menjadi 5 era
penting. Disetiap era tersebut, terjadi suatu kemajuan besar terhadap senyawa
vitamin ini yang diakibatkan oleh adanya kemajuan teknologi dan ilmu
pengetahuan.
Ø Secara garis besar, vitamin dapat
dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan
vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di
dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati.vitamin larut dalam air hanya
dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama
aliran makanan.
Ø Kekurangan dan kelebihan Vitamin
yang larut dalam lemak ada baik dan buruknya tergantung konsumsi.
3.2.Saran
Ø Dengan makalah ini pembaca
diharapkan dapat lebih mengerti tentang Vitamin baik dari sumber, fungsi serta
manfaatnya
Ø Semoga pembaca mengetahui bahaya
kekurangan serta kelebihan Vitamin bagi tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Sherwood,
L . 2001. Biochemistry
for Dental Students. CBS Publishers and Distributor, New
Delhi.
Akhilender.
2003. Dasar-Dasar Biokimia I.
Erlangga, Jakarta.
Sunita,
A. 2004. Dasar-Dasar Biokimia. UI
Press, Jakarta.
Yuniastuti,
L. 2008. Penuntun Praktikum Biokimia. Laboratorium Terpadu Kesehatan
Masyarakat AIPTKMI Regional Indonesia Timur UNHAS, Makassar.
Guyton,
A . C . 2007. Biokimia
untuk Pertanian. USU-Press, Medan
Pauling, L. 1971. General Chemistry
ed isi4. Gaya Baru, Jakarta.
Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Erlangga,
jakarta.
Girindra A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta.
Lal, H. 2000. Biochemistry for Dental Students. CBS
Publishers and Distributor,
New Delhi.
Lehninger, A. L. 1998. Dasar-Dasar Biokimia I. Erlangga,
Jakarta.
Mulyono HAM. 2005. Kamus Kimia. Bumi Aksara, Jakarta.
Pujiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI Press,
Jakarta.
Sirajuddin, S. 2009.Penuntun Praktikum Biokimia.
Laboratorium Terpadu Kesehatan Masyarakat AIPTKMI Regional Indonesia Timur
UNHAS, Makassar.
Sulaiman, A.H.1995.Biokimia untuk Pertanian. USU-Press,
Medan.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar